Sabtu, 17 Juni 2017

FROM THE SON OF A FEMINIST

SEBUAH SURAT YANG DITULIS OLEH SEORANG ANAK FEMINIS, BERJUDUL: From the son of a feminist
My name is Edgar van de Giessen. I am 45 years old and I am the son of one of the former leading feminists in Holland in the seventies of the last century. My mother was the first woman to receive the Harriet Freezer Award, given out by your organization Opzij for outstanding feminist activism.
I do not write this to seek any personal sympathy. I write this to share my heart, so that maybe one day men and women may live in love and respect, and not just in mutual legal equality.
Before I describe the personal consequences of the feminist upbringing I received as a boy between the age of 7 and 17, I want to express my respect for all women and men who rightfully protest against repression and discrimination on the basis of gender, skin color, or ethnic background.
Therefore I would like you to imagine how it is for an growing boy in the age of ten to hear every day from his mother that men are the cause of all trouble in the world, that men are guilty of all crime and war and repression in the world, that all men should be castrated after their semen has been deep-frozen to ensure the existence of the next generation, that men should live in different cities than women, so that they could all kill each other and so solve the problem of their own existence.
This is the kind of feminist teaching that I received every day, and created in me a deep mistrust in myself, in male authority, and a feeling of never being able to be good or lovable as a human being because of my maleness. This caused in me a reaction of proving my mother that at least I as her son was different than other men. This quickly turned into arrogance against other men that made me lonely and bare of friends for most of my life.
It also caused in me a hate toward women and an anger that I could only repress, because expressing it would prove my mother to be right. This repression thus turned me into a "nice" man as a compensation for the repression who then inevitably held a hidden hate and aggression against women with fantasies of rape and violence.
As a result of all of these effects of a rabid feminist's effect on her son, I needed 25 years of therapeutic and spiritual search and deep emotional healing to begin to find my own self-value and to start to experience fulfilling relationships with myself, men and women.
The war between the sexes is still unsolved. Divorce rates speak their own sad truth. Violence between men and women still fills the newspapers and feminism has not been able to solve this problem. In my personal case, feminism itself, as it is expressed in ways your organization specifically espouses, in large part created the problems and not prevented them. And if feminism causes men to hate women by cursing the darkness and not lighting an effective candle, feminism needs to ask itself if it is aware enough of the human heart and its complexity to be able to solve the problems it describes.
When my mother was giving her feministic lectures and tirades to me as a boy, she never felt once, in all those years, how her words and energies were landing in her own son. Personal love transacts through the ability to feel what the other person is feeling while (s)he is feeling it. The emotional wounding that my mother gave me did not come only from her words, but also in her not-feeling how her words impacted me as a little boy. In these ways, my mother had her own emotional wounding that turned her into a proudly man-hating, feministic unfeeling woman whose antipathy against men in ways supported by your organization turned in me as a hate against myself and against women.
What I want to say, is that however some aspects of feminism have an important role in creating equal rights for women, feminism does not have a positive contribution to how men and women can live in respect and love for each other. My intensive feminist upbringing created exactly the opposite. An emotionally healthy man will never have any wish to oppress a woman. An emotionally healthy woman will never have any wish to beat the man with his own weapons.
The feminism of the seventies and eighties whose legacy you inherit is a reactive movement that used the same oppressive energy as it was trying to fight against, instead of working with, the real issues, and therefore can never be successful in creating an atmosphere where loving and powerful femininity could blossom in a trusting and respectful atmosphere towards male strength. I do feel and understand that women can only respect male strength if that is rooted in openhearted vulnerability, but feminism and the emancipation movement failed to bring forth a generation of such men and in itself does not have the means to do so.
In that way, the feministic movement does not and cannot acknowledge the seminal repercussions of the fact that every man is raised in large part by a woman, and that his adult relationship to women consciously and unconsciously is determined in this large part by his relationship to his mother. Why hasn't feminism created a vision on how to raise boys into loving and strong men, upon whom women can trust and love? How can it happen that boys turn into men that repress, hate, despise or do not respect women? I am convinced, that if a boy receives healthy emotional love from his mother, this cannot happen!
It that sense, feminism has always lacked a vision of what emotional health is, how emotionally healthy love can be transacted from one human heart to the other, from mother to son, from father to daughter, from man to woman and from woman to man.
Without this vision, whose lack can never be addressed within the myopia feminism has about the human heart, regardless of gender, feminism remains a mere reactive movement that thus incorporates the very themes in men it teaches are wrong, and sadly will never allow it to ever achieve its own purpose.
Sincerely,
Edgar van de Giessen

Jumat, 10 Februari 2017

Fakta-fakta lain terungkap sehubungan ketahanan wanita dalam pertempuran

Sebuah pengalaman dalam artikel yang ditulis oleh Fred Reed yang dilansir pada blognya yakni: fredoneverything.net, yakni ia adalah seorang profesional pertahanan keamanan, salah seorang rekannya yakni Catherine Aspy yang  lulus dari Harvard pada tahun 1992 dan terdaftar di Angkatan Darat pada tahun 1995. Catherine bercerita padanya bahwa ia tertegun dengan apa yang dilihatnya di angkatan darat, bahwa didapati banyaknya ibu-ibu muda tidak menikah dan memanfaatkannya sebagai tempat mendapatkan pekerjaan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Ia sendiri mencoba mengambil pelatihan dengan serius dan berupaya bersaing dengan laki-laki. Ia  mendapati diri tidak mampu, menurutnya perbedaan kemampuan fisik pria dan wanita sangatlah besar, dan selalu ada perempuan yang  cedera karena pelatihan.
Berikut hasil tes yang memperlihatkan persentasi kegagalan para  pria dan wanita sebelum dan setelah mengambil pelatihan, diantara pria dan wanita didapati jurang perbedaan kemampuan fisik yang amat sangat besar.

Tabel yang memperlihatkan kemampuan fisik para  pria dan wanita sebelum dan setelah mengambil pelatihan
 Tes
% Wanita yang Gagal
% Pria yang Gagal
Sebelum
Training
Setelah Training
Sebelum Training
Setelah
Training
Stretcher carry, level
63
38
0
0
Stretcher carry/up, down ladder
94
88
0
0
Fire hose
19
6
0
0
P250 pump, carry down
99
99
9
4
P250 pump, carry up
73
52
0
0
P250, start pump
90
75
0
0
Remove SSTO pump
99
99
0
0
Torque engine bolt
78
47
0
0

Berdasarkan laporan Penugasan Perempuan dalam Angkatan Bersenjata [The Presidential Commission on the Assignment of Women in the Armed Forces] per tanggal 15 November  1992, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku oleh Brassey pada tahun 1993, mengatakan bahwa: "Rata-rata perempuan yang direkrut sebagai tentara memiliki karakteristik 4,8 inci lebih pendek, memiliki berat badan lebih ringan 31,7 pon dengan 37,4 pon lebih sedikit massa otot, dan memiliki 5,7 pon lemak tubuh jika dibandingkan laki-laki pada umumnya. Ditambahkan lagi, para wanita ini memiliki lebih kurang 55 persen kekuatan tubuh bagian atas dan 72 persen kekuatan tubuh bagian bawah dibandingkan dengan pria.
Sebuah studi terhadap 124 tentara pria dan 186 tentara wanita yang dilakukan pada tahun 1988, mengungkapkan bahwa wanita beresiko dua kali lebih banyak mengalami  cedera kaki dan hampir lima kali lebih banyak beresiko mengalami patah tulang dibandingkan laki-laki.
Sumber:
·          Women In Combat (Perempuan dalam pertempuran) [http://www.fredoneverything.net/MilMed.shtml]

Sebenarnya mengacu pada temuan-temuan terdahulu saja, sudah menghadirkan sejumlah bukti yang tidak dapat disangkal perihal perbedaan besar antara pria dan wanita. Sebuah buku yang ditulis oleh Brian Patrick Mitchell dalam bukunya yang berjudul ‘Wanita di Militer: Bermain-main dengan Bencana’ (Bahasa Inggris: Women in the Military: Flirting With Disaster) mengungkapkan bukti otentik perihal betapa para tentara wanita memberikan pengaruh yang luar biasa negatif bagi pertahanan militer di Amerika Serikat.

Dalam bukunya ia menyatakan bahwa tekanan feminis, yang ditenggarai politik untuk memberikan peran-peran pada para wanita terhadap institusi militer sangatlah besar dampaknya.  Realitas menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar antara kinerja pria dan wanita, yang terjadi  adalah degradasi terhadap kekuatan militer yang semakin rapuh.
Mitchell menyajikan bukti yang kuat tentang perbedaan besar antara pria dan wanita di militer yang seharusnya mampu membuka mata para petinggi untuk berpikir ulang terhadap kebijakan yang dibuat secara sepihak hanya untuk mengikuti agenda feminis, sayangnya bukti-bukti yang menjurus pada betapa tidak pantasnya perempuan dalam militer, dan terutama dalam pertempur kerap diabaikan.

Misalnya, ia merujuk pada studi Angkatan Darat, West Point yang mengungkapkan bahwa wanita lebih lemah dibanding laki-laki, didapati bahwa studi Angkatan Darat yang menunjukkan wanita lebih rentan mengalami cedera dibandingkan laki-laki, studi di  Angkatan Laut pun mengungkapkan bahwa perempuan, baik sebelum dan sesudah pelatihan, didapati tidak mampu menangani  kontrol kerusakan di atas kapal  dan review terhadap kebijakan  WITA (Women in the Army), ditemukan fakta bahwa lebih dari 90 persen wanita Angkatan Darat tidak mampu memenuhi persyaratan dan lebih dari 75 persen dikarenakan ketidakmampuan fisik.

Sebuah penelitian Angkatan Laut menemukan fakta bahwa jumlah taruna  perempuan  yang menderita sakit didapati hampir dua kali lipat dibandingkan taruna laki-laki. Juga sekitar 20 persen dari awak kapal perempuan hamil selama masa studi dalam jangka waktu  satu tahun, hal ini terlepas dari fakta bahwa kontrol kelahiran sebenarnya menjadi pelayanan kesehatan di angkatan laut.

Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat penyusutan para personil wanita (servicewomen) di angkatan laut 36 persen lebih tinggi dari personel laki-laki. Kebanyakan alasan berulang adalah kehamilan, yang berkisar antara 25 hingga 50 persen sehingga tidak memenuhi kontrak kerja. Studi banding kemampuan fisik taruna laki-laki dan perempuan di West Point mengungkapkan bahwa jika standar ganda tidak diterapkan dapat dipastikan 80% dari wanita tidak akan memenuhi syarat untuk bertugas di angkatan darat.

Mitchell mengatakan bahwa jika perempuan ingin berperan dalam militer maka karir yang dapat dilakoniknya yakni bertugas sebagai dokter militer dan perawat (hal ini dikarenakan kurangnya peran ini, baik dokter atau perawat pria dan wanita), selebihnya tidak ada alasan kuat untuk tetap mempertahankan perempuan di militer. Menurutnya, terus memaksakan diri menjaga keseimbangan antara kinerja militer yang baik dengan ‘kesempatan bagi perempuan’ akan berdampak dikorbankannya keamanan nasional.

Sumber-sumber lain yang menarik untuk ditelusuri kebenarannya:

-           Sepuluh alasan mengapa suami Anda selalu lebih cepat dan kuat dibandingkan Anda.(10 Reasons Why Your Husband Will Always Be Faster & Stronger Than You). Taylor R pengakuan Female trainer.  Cuplikan: [Sadly ladies here’s the truth… Men will always be faster, stronger, and progress faster with exercise progression than women. … While I knew this to be true, I never really thought about the “whys” until reading The Sports Gene by David Epstein. To be honest, learning the whys have made me feel better. I’m a-okay somewhat fine with Dan beating when we do 40 m sprints, knowing that it’s not me… it’s him.  [http://www.liftingrevolution.com/10-reasons-why-your-husband-will-always-be-faster-stronger-than-you/].
-           Jumlah massa otot pria vs wanita. (Amount of Muscle Mass in Men Versus Women). May 05, 2015 | Oleh: Andrea Cespedes [Muscle Numbers -  Studies have proven again and again that men have a greater amount of skeletal muscle than women. In one such study that examined 468 men and women and was published in a 1985 issue of the “Journal of Applied Physiology,” researchers determined that men had an average of 72.6 pounds of muscle compared to the 46.2 pounds found in women. The men had 40 percent more muscle mass in the upper body and 33 percent more in the lower body.  Strength Translation - Men not only have more muscle, but pound for pound, their muscle is slightly stronger than a woman's -- about 5 to 10 percent, says Lou Schuler in "The New Rules of Lifting for Women." A study reported in a 1993 issue of the "European Journal of Applied Physiology and Occupational Physiology" attributed this strength difference to larger muscle fibers in men.] [http://www.livestrong.com/article/246036-how-much-more-muscle-mass-does-a-male-have-than-a-female/]
-           Jenis kelamin dapat menjelaskan mengapa pria memiliki kemampuan navigasi yang unggul. (Sex May Explain Why Men Have Superior Navigational Skills). The Huffington Post  |  By Macrina Cooper-White.
Cuplikan: Dr. Layne Vashro yang bekerja di Nambia untuk bekerja bersama suku Twe da Tjimba di Namibia dengan lebih dari 120 pria dan wanita, dikatakan:
For the study, the men and women performed a series of spatial and navigational tasks, which included mentally rotating objects shown on a computer screen and pointing to distant locations.
The researchers also found a significant correlation between men's performance on the mental rotation task and how much they traveled. In short, men who were better at the task traveled more.
When it came to women, no significant link was found between spatial abilities and travel. The researchers believe men benefit more than women for having multiple mates, which may help explain the gap between men and women. [http://www.huffingtonpost.com/2014/11/17/men-evolved-skills-more-sex_n_6159438.html].
-           Spatial cognition, mobility, and reproductive success in northwestern Namibia. Journal Evolution and Human Behavior. Studi publikasi dilansir pada: [http://www.ehbonline.org/article/S1090-5138(14)00130-5/pdf].
-           Why Women Can’t Do Pull-Ups. Tara Parker-Pope. October 25, 2012. Cuplikan: The Marines say a male recruit should be able to do at least 3 pull-ups or chin-ups, but women are not required to do them. In school, 14-year-old boys can earn the highest award on the government’s physical fitness test by doing 10 pull-ups or chin-ups: for 14-year-old girls, it’s 2. [http://well.blogs.nytimes.com/2012/10/25/why-women-cant-do-pull-ups/?_r=0 ].
-           More girls suffering sports-related concussions. In sports played by both sexes, girls are reporting nearly twice as many concussions. Researchers blame girls’ weaker necks as many young athletes are having to give up the sports they love. NBC’s Kate Snow reports. [http://www.today.com/video/today/47351695#47351695].
-           Perlukah-wanita-berlatih-dengan-cara-berbeda-dari-pria [Cuplikan: wanita harus mempertimbangkan diri dalam mengambil pelatihan karena  perbedaan fisik termasuk pula siklus menstruasi yang dialami wanita].
-           [http://www.fitnessindonesia.com/blog/2015/02/research-review-perlukah-wanita-berlatih-dengan-cara-berbeda-dari-pria#sthash.LAlbitWp.dpuf].
-           Kami mengira bahwa atlit wanita mampu melampau pria, faktanya tidak demikian.(We Thought Female Athletes Were Catching Up to Men, but They're Not). Robinson Meyer Aug 9 2012. [http://www.theatlantic.com/technology/archive/2012/08/we-thought-female-athletes-were-catching-up-to-men-but-theyre-not/260927/].
-           Secara umum Pria lebih kuat dari wanita.(Men Are Stronger Than Women (On Average)) By Razib Khan,  February 25, 2015. Artikel ini mengambil rujukan banyak paper penelitian kekuatan pria dan wanita, artkel ini dibuat untuk menjawab persepsi palsu yang tidak bisa menerima bahwa pria memiliki kekuatan fisik superior dibandingkan wanita. [Cuplikan pembuat artikel: To give a concrete example of how far this goes, there are many liberal Left people who won’t even accede to the proposition that men are, on average, stronger in terms of upper body strength than women. ]  [http://www.unz.com/gnxp/men-are-stronger-than-women-on-average/].
-           Sains memperlihatkan bahwa Pria lebih cerdas dibandingkan wanita. (Men Smarter than Women, Scientist Claims). Ditulis oleh Jeanna Bryner, Live Science Managing Editor   |   September 08, 2006  [Cuplikan: When Rushton and colleagues weighted each SAT question by an established general intelligence factor called the g-factor, they discovered that males surpassed females by an average of 3.6 IQ points] [http://www.livescience.com/7154-men-smarter-women-scientist-claims.html].
-           Pemeriksaan darah Lengkap – Perbedaan fisik antara Pria dan Wanita. http://www.itd.unair.ac.id/files/pdf/protocol1/PEMERIKSAAN%20DARAH%20LENGKAP.pdf
-           Perbedaan jenis kelamin : Intro & Fisik Perbedaan - Pria dan wanita berbeda dalam banyak cara, banyak yang mereka bahkan tidak sadar (Gender Differences: Intro & Physical Differences - Men and women differ in countless ways, many of which they aren’t even conscious of) . [Cuplikan: Pria biasanya memiliki kekuatan tubuh bagian atas lebih besar, lebih mudah membangun otot, tidak mudah cedera. Mereka, yakni pria dan wanita kerap kali tidak menyadari adanya perbedaan ini.Juga, tengkorak pria hampir selalu lebih tebal dan lebih kuat dari perempuan] (Men usually have greater upper body strength, build muscle easily, bruise less easily and have a lower threshold of awareness of injuries to their extremities. A man’s skull is almost always thicker and stronger than a women’s)] [http://malagha.com/2011/04/04/gender-differences/]
-           Daftar rekor dunia di bidang atletik. (List of world records in athletics) - Wikipedia, the free encyclopedia. Dapat diperlihatkan perbedaan signifikan pada pencapaian rekor dunia bahwa pria mengungguli wanita dalam semua cabang atletik. [http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=List_of_world_records_in_athl].

-           Genetika olahragawan: Performasi luar biasa atlet dalam kacamata sains. (The Sports Gene: Inside the Science of Extraordinary Athletic Performance). David Epstein . August 1, 2013.

Fakta perbedaan komposisi darah pada pria dan wanita

Tahukah Anda fakta tentang darah? Terdapat perbedaan antara karakteristik darah pada pria dan wanita. Sel darah merah atau eritrosit  (berasal dari Bahasa Yunani yaitu erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung), adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan tubuh. Sel darah merah aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan. Kadar eristrosit pada Pria  berkisar: 4,6 – 6,2 jt/mm3, dan pada Wanita berkisar: 4,2 – 5,4 jt/mm3. Komponen lain adalah haemoglobin, molekul di dalam eritrosit  atau sel darah merah,  dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Sedangkan kualitas darah dan warna merah pada darah ditentukan oleh  kadar haemoglobin.


Dalam kasus ini, kadar haemoglobin pada pria dan wanita sangat berbeda yakni: pada pria berkisar: 14-18 gr/dL,  sedangkan wanita berkisar: 12-16 gr/dL. Salah satu perbedaan inilah yang membuat para pria dapat berlari lebih kencang, mampu melakukan pembakaran untuk menghasilkan energi lebih cepat dan bekerja lebih keras, termasuk pula mampu bertahan di dalam air jauh lebih lama, faktor lain yang juga menunjang kinerja pria, yakni  paru-paru pria yang lebih besar dari wanita.

Wanita tidak akan pernah melampaui lelaki dalam lari maraton

Sebuah fakta menarik yang dilansir oleh majalah TIME mengungkapkan kebenaran pernyataan di atas, “Wanita Tidak Akan Pernah Melampaui Lelaki Dalam Lari Maraton.” Selama beberapa dekade banyak pegiat olahraga berspekulasi bahwa perempuan lebih cocok untuk lari jarak jauh daripada pria karena rasio lemak tubuh yang lebih tinggi, dan diharapkan bahwa wanita memiliki 'sumber kalori’ yang lebih banyak. Terlebih lagi banyak wanita yang juga menggeluti kegiatan maraton dan diamati bahwa kesenjangan antara waktu terbaik maraton pria di dunia dan waktu perempuan terbaik di dunia telah terus mengalami penyusutan.

Dan fakta yang akan diungkapkan yakni sebuah temuan dari Tim Noakes, profesor ilmu olahraga di University of Cape Town, amat mengejutkan dan sekaligus menghentikan  perdebatan pertarungan atletik antara laki-laki dan perempuan.
“Pertanyaannya adalah: Akankah wanita lebih cepat daripada laki-laki dalam lomba maraton? Sang profesor menjawab: Sayangnya jawabannya adalah, kecuali mereka (wanita) menjadi laki-laki, tidak, mereka (wanita)  tidak akan pernah melampaui laki-laki!”

Mengapa demikian? Ada beberapa spekulasi bertahun-tahun yang lalu, (1970-an),  karena perempuan memiliki cadangan lemak yang lebih besar, mereka disinyalir memiliki ketahanan lebih baik dibandingkan laki-laki untuk lari jarak jauh.  Beberapa tahun yang lalu sang profesor menulis makalah dan menyajikan kasus jika seorang pria dan seorang wanita berlari dengan jarak tempuh 42 kilometer dalam waktu yang sama, wanita cenderung unggul dengan rentang waktu satu jam lebih cepat.

Kemudian tim riset menyadari apa masalahnya, yakni  pelari (bukan para profesional) yang terdiri dari pria dan wanita dengan ukuran tubuh yang berbeda. Tapi hal ini terungkap pada pengukuran atlet terbaik dunia, dengan acuan tubuh lelaki dan wanita yang memiliki berat hampir sama. 

Pemegang rekor dunia perempuan di maraton memiliki massa tubuh 54 kg dan pemegang rekor dunia pria dengan massa tubuh sekitar 56 kg. Perempuan mendapatkan keuntungan sehubungan jarak yang lebih jauh, hanya karena  dalam kasus ini perempuan memiliki lebih sedikit massa untuk bergerak. Tapi begitu keduanya memililki berat badan yang relatif sama, lelaki  berjalan  10% lebih cepat.  Sedangkan pada jarak antara 100 meter sampai 1000 meter, wanita secara konsisten lebih lambat dari lelaki berkisar antara 9% dan 11% . Bahkan, seandainya saja wanita dapat berjalan dalam jarak 100 meter secepat pria, wanita tidak akan mengalahkan laki-laki bahkan pada 1000 meter.

Sang profesor menambahkan, hal ini dikarenakan  efek  testosteron pada laki-laki. Sang pelari umumnya harus bergerak dalam 200 milidetik atau 300 milidetik untuk menerapkan kekuatan untuk mendorong melalui udara, sehingga diperlukan sepasang kaki  yang sangat kuat.  

Paula Radcliffe, [yang pemegang rekor dunia dalam maraton perempuan], dengan massa tubuh adalah 54 kg,  tidak memiliki kekuatan otot seperti yang pria miliki, inilah membeda hasil akhir antara pelari maraton pria dan wanita. Noakes beralasan, perempuan harus memiliki testosteron dalam tubuh selama 20 tahun untuk mengembangkan kekuatan yang pelari laki-laki miliki. Bahkan wanita yang menggunakan  steroid pun, tetap saja tidak akan secepat pria.


 Keterangan: Rekor dunia perempuan adalah 90 persen dari rekor dunia pria, pada lari jarak pendek, menengah dan jauh (Sumber: theatlantic.com)

Sumber:
·          Will Women Ever Outrun Men? [http://content.time.com/time/health/article/0,8599,1831398,00.html]

·          We Thought Female Athletes Were Catching Up to Men, but They're Not. [Theatlantic.com]

Pull up mudah bagi pria tetapi sulit bagi wanita

Didapati berita yang menyatakan bahwa banyak para marinir perempuan di kamp militer tidak bisa menyelesaikan meski hanya tiga pull-up saja, yang kemudian aturan diubah untuk diterapkan pada seleksi marinir wanita, halnya tidak masalah untuk para marinir pria yang pada dasarnya aturan demikian sudah diterapkan sejak lama.

Associated Press menegaskan bahwa Korps Marinir akan menunda pelaksanaan standar baru pada tentara wanita untuk  melakukan setidaknya tiga pull-up pada tes kebugaran tahunan  (sama dengan persyaratan untuk pria). Persyaratan untuk perempuan seharusnya berlaku tahun ini, tetapi ditunda setelah tes menunjukkan bahwa 55 persen dari perempuan yang direkrut di Carolina Selatan tidak bisa menyelesaikan tugas fisik demikian.

Lalu fakta sebenarnya terkuak bahwa: pull-up lebih sulit dilakukan oleh wanita dibandingkan   laki-laki. Hal ini dikarenakan wanita memiliki massa otot lebih sedikit di area tubuh bagian  atas, kata Tim Hewett, direktur riset di departemen kedokteran olahraga di Ohio State University Wexner Medical Center. Temuan medis menyatakan, hasil pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI)  menunjukkan bahwa wanita memiliki sekitar 40 persen lebih sedikit massa tubuh bagian atas daripada laki-laki. Ini berarti bahwa, secara umum  kekuatan tubuh bagian atas alami wanita hanya sekitar 50 sampai 60 persen dari  pria.

Jadi tampaknya prinsip kesetaraan antara pria dan wanita dalam militer bukan memaksudkan setara dalam kekuatan, secara faktanya, keduanya mendapati beban persyaratan yang tidak setara. Sudah hukum alam bahwa laki-laki lebih kuat dibandingkan wanita. Hal ini memperlihatkan bahwa  ketahanan dan kekuatan fisik ini tidak ada hubungannya dengan konstruksi sosial.

Sumber:

·          Why Pull-Ups Are Harder for Women. Rachael Rettner, Senior Writer | January 3, 2014. [http://www.livescience.com/42318-women-pullups.html]

Studi memperlihatkan bahwa pria mampu mengatasi rasa sakit lebih baik

Artikel yang ditulis oleh Lee Dye yang adalah seorang mantan penulis sains untuk Los Angeles Times pada ABCNEWS.com menyatakan bahwa pria ternyata mampu menahan rasa sakit lebih baik daripada wanita.
Sebelumnya dikatakan secara konstruksi sosial bahwa pria bisa menahan rasa sakit karena perannya, tetapi justru fakta sains mengungkapkan lebih dari itu, bahwa pria memang jauh lebih toleran dengan rasa sakit dibandingkan wanita. Penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa pria memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa  sakit dibandingkan dengan wanita.

Psikolog Roger Fillingim dari University of Florida, menyatakan bahwa pria dan wanita berbeda dalam toleransi rasa sakit mereka. Sebelumnya ia berpikir bahwa laki-laki menyangkal rasa sakit mereka untuk melindungi citra maskulin mereka.  Tapi sejumlah studi terkini menunjukkan bahwa hal tersebut lebih dari sekedar maskulinitas pria. Tampaknya ada perbedaan mendasar dalam hal bagaimana kedua jenis kelamin mengatasi rasa sakit.

Didapati laporan bahwa perempuan lebih banyak mengeluhkan rasa sakit dibandingkan laki-laki. Fillingim ingin menggali lebih dalam apakah ada faktor-faktor psikologis, hormonal, atau apa pun yang dapat mempengaruhi perbedaan nyeri pada wanita dibandingkan pada pria, dan sebaliknya.  Jika memang demikian, maka para spesialis perlu menerapkan perlakuan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki guna mengurangi rasa sakit.

Para peneliti telah mengadopsi metode untuk menilai respon terhadap rangsangan yang menyakitkan guna mengeliminasi pengaruh hal-hal seperti stereotip laki-laki, namun hasil akhir tetap saja bergantung pada kejujuran ​ketika pria atau wanita merasa sakit. Serangkaian penelitian dengan skema yang unik digunakan untuk mengatasi bahwa umpan balik pernyataan pria terhadap rasa sakit  lebih termotivasi karena ‘mereka harus menjaga citra laki-laki mereka’. Maka dari itu, wanita pun harus dimotivasi dengan memberikan beberapa hadiah guna meningkatkan toleransi rasa sakit pada wanita, hal ini dilakukan karena laki-laki sudah termotivasi dengan citra laki-laki mereka.

Observasi dilakukan melibatkan 81 orang yang setuju untuk merendam tangan dalam ember air es untuk melihat berapa lama mereka bisa tahan terhadap rasa sakit. Beberapa yang ditawarkan  1 dolar jika mereka tetap bertahan merendam tangan di air beku selama lima menit, jika lebih lama maka mereka dihadiahi  20 dolar. Hal ini memudahkan para peneliti untuk mengukur ketahanan pria dan wanita terhadap rasa sakit dengan berimbang tanpa stereotip.

Para peneliti berpikir para wanita yang termotivasi akan menaruh tangan mereka di dalam air lebih lama daripada mereka dengan dimotivasi sejumlah uang, hal ini memang mempersempit jurang ketahanan rasa sakit antar pria dan wanita. Tetapi, temuan menarik lain memperlihatkan bahwa laki-laki yang di tawarkan uang sejumlah  20 dolar, ternyata mampu menahan rasa sakit  jauh lebih lama dari pria yang hanya ditawarkan sejumlah kecil uang.
Ternyata jurang antara perbedaan ketahanan rasa sakit pria dan wanita membuktikan bahwa keduanya berbeda secara genetika. Hal ini menepis telak konstruksi sosial yang dinyatakan oleh feminis sehubungan gender.

Sumber:

·          Studies Suggest Men Handle Pain Better. April 17. Lee Dye. [http://abcnews.go.com/Technology/story?id=97662&page=2] 

Kamis, 09 Februari 2017

Mengapa otot pria jauh lebih besar daripada wanita

Pertanyaan seperti, pria dapat mengembangkan massa otot lebih besar dari perempuan kerap kali didengar dalam berbagai tips olahraga dan majalah kesehatan, dan jika diselidiki lebih lanjut hal ini dikarenakan adanya perbedaan proses dalam tubuh yang membangun otot.
Testosteron pada Pria 
Pria memiliki lebih banyak testosteron, hal ini menjelaskan bahwa pria mampu mengembangkan otot yang lebih besar daripada wanita. Sedangkan wanita hanya memiliki kadar testosteron 5-10% dibandingkan laki-laki.
Menurut sebuah studi tahun 2004 yang diterbitkan di American Physiology Society, otot rangka pada laki-laki menghasilkan output kekuatan yang lebih besar dan lebih cepat dibandingkan dengan otot rangka perempuan. Lebih lanjut hal ini membuat pria lebih efisien dalam menghasilkan tenaga dibandingkan wanita. Tubuh pria juga memproduksi testosteron, yang sangat penting dalam membangun otot. Hal ini sudah cukup menjelaskan mengapa pria mengembangkan massa otot yang lebih besar daripada wanita .
Perbedaan Struktur  Otot
Apakah ada perbedaan antara otot  laki-laki dengan otot wanita? Ya, sangat banyak perbedaannya, salah satunya yakni pria memiliki serat otot berkedut lebih cepat yang membuat mereka lebih kuat . Meskipun jaringan otot pria dan wanita adalah sama, tetapi serat otot manusia umumnya berbeda, tergantung pada gender, genetika dan kegiatan rutin mereka. Pria biasanya memiliki serat otot berkedut lebih cepat dibandingkan dengan wanita, hal ini  juga menjadi faktor yang membuat  laki-laki lebih kuat dari pada wanita.
Sumber:
·          Berapa banyak testosteron yang diproduksi pria (How much testosterone do men produce?)  [http://www.sharecare.com/health/endocrine-system/how-much-testosterone-in-women].
·          Apakah ada perbedaan antara otot pria dan wanita (Is There a Difference Between Female and Male Muscles?) [http://www.livestrong.com/article/355987-female-male-muscles/].
·          Amount of Muscle Mass in Men Versus Women [http://www.livestrong.com/article/246036-how-much-more-muscle-mass-does-a-male-have-than-a-female/ ].
·          Gender Affect Strength [http://www.livestrong.com/article/1003677-gender-affect-strength/].
·          Muscular Strength in Women Compared to Men. Last Updated: Feb 05, 2014 | By Terry Williams. [http://www.livestrong.com/article/509536-muscular-strength-in-women-compared-to-men/].

·          Testosteron [http://en.wikipedia.org/wiki/Testosterone].